Rindu


Bukit yang biru telah beku
Sedingin hatimu
Dahan dan ranting gemersik bisu
Di dalam rindunya aku
Hanya angin yang bercumbu
Berharap sewaktu-waktu
Engkau milikku
Akan kembali mengadu
Kita arungi samudra biru
Dan biarkan aku memandang bening senyummu
Di setiap perjalanan waktu

Selamat Bermain

Kuliah itu capek, tapi kerja lebih capek! Kerja itu capek, tapi tak bekerja itu lebih capek! Bekerja itu memang susah, walaupun mungkin tingkat kesulitannya akan berbeda.
Dunia kerja lebih keras dibandingkan masa ospek dibentak dan disuruh push up senior,
dibandingkan mengerjakan tugas dan laporan praktikum yang mewajibkan begadang berhari-hari.
Bekerja bukan sekedar persoalan rutinitas pergi jam A, pulang jam B, menerima gaji pada tanggal C, pada sebuah kantor bermerk D, lalu lanjutkan saja teorimu hingga alphabet Z.
Lelah bukan?
Mengharap bantuan Ilahi sepertinya lebih bisa menjadi jawaban yang tepat untuk hal ini.
Meroketlah setinggi-tingginya, dan bersiaplah dengan kejutan-kejutan. Bukankah kejutan-kejutan akan menjadikan hidup lebih berwarna dan menantang untuk dilakoni bersama tokoh baru di cerpenmu?
Ya aku membayangkan betapa susahnya mengelola hati di ketinggian cita-cita besar bisa menaklukkan rupiah dengan pola aktivitas antimainstream menurut jalan pikiran kita masing-masing.
Tapi ingat roketmu harus kembali di tempat dimana energi dilepaskan, lelah diekspresikan.
Tempat sederhana penuh ion-ion kedamaian mengisi rongga dadamu yang lelah.
Rumah! :)
Aku tak percaya tentang pintar dan bodoh.
Asal dengan kerja keras apa-apa yang awalnya tampak tidak mungkin menjadi mungkin. Fokus! Ingat bisa tertawa lebar di akhir.
Masih tak percaya? Ingin cari inspirasi dan motivasi untuk membuktikan?
Tak perlu jauh-jauh, cukup berdiri depan cermin lalu bermuhasabah diri. Kamu bukan malaikat kan? Kau tak bisa membahagiakan semua orang di bumi ini. Manusia tidak sesempurna itu. Maka prioritaskan yang pantas kau bahagiakan.
Jangan lupa, sosok di depan cermin sekarang, dia penting juga.
Lihat.
Kau tidak pernah benar-benar sendiri, kan? Ada Allah!
Dan tentang cerita orang sukses yang bisa kita baca, aku jamin tidak ada satu cerita orang sukses pun yang luput dari cerita tentang kegagalannya.
Tapi kompasmu Allah. Jangan berlebihan menganggap manusia sebagai kiblat dari apapun dalam hidup ini.
Ya, kerja itu cinta. Cinta itu usaha dan proses,bukan hasil. Maka ketahuilah hasil tak pernah mengkhianati proses.
Jadikanlah apa-apa yang kita kerjakan bagaikan taman bermain kita. Ciptakan tempat kerja yang memungkinkan kita semua bagaikan sedang “bermain”.
Selamat bermain! Semoga menang!

The Power of Blentuk



Skenario Allah memang selalu membuat kejutan. Aku terjebak, oh salah mungkin lebih tepatnya kusebut tercemplung dan berenang sekalian. Percayalah dulu aku merasa terdampar di planet bersama alien-alien kecil saat masuk menjadi bagian keluarga PPBY. Tapi sekarang aku bersyukur menjadi tawanan PPBY, tak mau mencoba keluar lagi dari penjara teristimewa ini. Bahkan Gayus Tambunan harus tahu ada penjara yang lebih nyaman dari penjara koruptor sekelasnya. Kini aku di depan ruang kelas dan siap untuk mengajar. Ayo duduk dengan baik dan siapkan buku catatan Anda karena kelas akan saya mulai sekarang.
Aku hanya mahasiswi baru di Akademi Kimia Analisis yang masih meraba sistem kampus dan segala komponen organisasinya. Awalnya niatku melanjutkan dan mengembangkan hobi seni di kampus ini tapi namanya juga mahasiswa baru, mudah terpengaruh kakak senior. Jauh dari orang tua membuatku hati-hati memilih teman, karena salah berteman pasti membuat niatku berangkat ke kota hujan ini goyah.
Karena pengaruh kakak senior akhirnya aku bergabung di salah satu organisasi kampus bernama Pelaksana Program Beasiswa Yatim Dhuafa yang biasa disingkat PPBY. Seperti kebanyakan maba lainnya, aku hanya ikut-ikutan. Aku diamanahkan sebagai staff divisi Humas. Kegiatan utamanya adalah mengajar, setiap Minggu kami mengajar di Kampung Blentuk. Mengajar sukarela? Tanpa dibayar?  Membantu? Direpotkan? Setiap weekend? Oh inikah yang mereka sebut militansi berorganisasi? Ya mungkin, pikirku.
 Minggu pagi sebelum berangkat mengajar di Kampung Blentuk aku sempatkan membaca materi pelajaran Sekolah Dasar. Aku belum pernah mengajar sebelumnya, jadi kupastikan hafal dan paham materi yang akan kuberikan pada anak-anak. You know what? This is my first time! Jangan sampai aku ditertawakan anak-anak karena tak bisa menjawab pertanyaan mereka. Untuk sampai di tempat mengajar kami di Kampung Blentuk, kami harus berjalan kaki dari kampus melewati Jalan Tol lalu menyusuri jalan berumput. Aku berjalan menetralisir karbondioksida yang segera digantikan sisa-sisa oksigen yang ada di sela mobil mewah di jalan tol. Beruntunglah aku masih mendapat kehebatan oksigen dari tanah Blentuk yang penuh kehijauan walaupun beberapa kehijauannya telah terkhianati penikmat jalan tol yang menghancurkan keagungan alam. Sebelum memulai belajar, kami selalu membiasakan anak-anak berdoa terlebih dahulu lalu membagi mereka menjadi beberapa kelompok. Tak jarang sedikitnya jumlah pengajar membuat kami kuwalahan menghadapi anak-anak. Sering juga materi yang sudah kusiapkan terasa percuma karena tak tersampaikan, waktu habis karena susahnya mengomando anak-anak agar mendengarkanku. Saat aku mulai menjelaskan di papan tulis ada saja yang berlarian layaknya di Dufan. Apalah dayaku bukan Harmonie teman Harry Potter yang bisa menyihir mereka agar diam.
Rasa lelah, kecewa, ketidak tahuan, semuanya bereaksi bercampur baur membentuk senyawa yang pas untuk sebuah pilihan : BERHENTI. Setelah kupikir dengan beberapa pertimbangan, rasanya hanya lelah yang kudapat selama mengajar. Toh aku tidak dibayar, tidak mendapat hadiah, malah kukorbankan waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk mengerjakan tugas dosen atau laporan praktikum.
            Aku mulai terbiasa mengajar dan berfikir mencoba peruntungan baru. Di mading kampus kubaca lowongan kerja sebagai tutor bimbel di Bogor. Ini kesempatanku mendapat tambahan uang, daripada harus mengajar sebagai relawan. CV termenarik yang sengaja kubuat mati-matian semalaman akhirnya terkirim ke alamat email di lowongan tersebut, bahkan kukorbankan kuota internet untuk browsing contoh CV yang baik. Kuharapan pembaca cerita ini tak mendoktrinku lebay, tolong maklumilah seorang mahasiswi yang baru pertama melamar kerja part time. Beberapa hari kemudian, admin bimbel tersebut menelepon dan mengabarkan bahwa aku harus mengikuti test sebelum resmi menjadi tutor. Aku lalai, terlalu asyik mengejar uang dari mengajar hingga lupa pada adik-adik PPBY-ku. Beberapa kali aku absen mengajar dengan pejuang PPBY. Setelah dinyatakan lulus test, aku resmi menjadi tutor di bimbel tersebut.
Kusebut dia Mawar (bukan nama sebenarnya), salah satu murid yang kuajar di bimbel tersebut. Dia anak bungsu dari dua bersaudara. Kedua orang tuanya sengaja mendaftarkan anaknya di bimbel padahal dia masih kelas 3 SD, sebenarnya belum ada kelas untuk tingkatannya sehingga dia dimasukkan kelas privat. Saat itu materi yang harus kusampaikan adalah matematika. Mawar anak yang pintar, di luar dugaanku! Dia berhasil menjawab semua soal yang kuberikan hanya dengan bantuan jari-jari mungilnya untuk menghitung.
“Anak sudah pintar gini kok masih disuruh les sama orang tuanya”, gumamku.
Aku kehabisan materi, kehabisan soal, semua bab kelas 3 SD telah dipahami Mawar. Seketika kuingat adik-adik PPBY, Nisa, Nurma, Resti, Riska, Siti, dan lainnya yang mungkin belum sepaham Mawar dan tak sejago Mawar untuk melumat soal Matematika. Apa selama aku tak mengajar mereka mencariku?
            Kucoba menikmati rutinitas baruku sebagai tutor bimbel. Suatu hari aku mengajar di kelas 5, kali ini tak lagi kelas privat. Satu kelas terdiri dari 5 atau 6 anak aku tak begitu ingat jumlah tepatnya.
Saat membahas soal tiba-tiba seorang anak menyeletuk, “Kak April, boleh minta pin BB, twitter, facebook?”
Aku terkejut, ”Tentu saja boleh, tapi nanti ya setelah belajar”, jawabku sambil kulirik gadget yang digenggamnya. Kupastikan anak ini berasal dari keluarga strata menengah ke atas, untuk porsi kelas 5 SD bagiku gadgetnya sangat mewah bahkan melebihiku yang saat itu hanya bermodal teknologi blackberry 8560. Seketika itu pula kuingat adik-adik PPBY di kampung Blentuk.  Kuingat dulu pernah membawa laptop saat mengajar mereka, betapa senangnya anak-anak di kampung kecil dekat Tol itu. Aku merasakannya dari mata yang berbinar-binar, dari tawa dan penasaran mereka yang bergejolak. Kumainkan salah satu lagu di laptopku berjudul Aku Anak Indonesia yang dinyanyikan Tasya, mereka berebut ingin di dekatku untuk sekedar melihat layar laptop dan ingin tau cara mengoperasikannya. Di saat anak-anak lain menikmati gadget mahal pemberian orang tuanya, berkesempatan menjajal games yang tiap hari bisa mereka download maka di belahan lain hanya dengan cara yang tak mahal, sesederhana kutunjukkan laptop pada anak-anak kampung Blentuk maka mereka sudah sangat bahagia. Mereka yang mengajarkanku kesederhanaan, karena bahagia adalah bagaimana cara kita bersyukur. Apa selama aku tak mengajar mereka menanyakan keberadaanku? Aku rindu kalian, adik-adik PPBY-ku.
            Aku sadar. Aku telah terlalu jauh terbang meninggalkan adik-adik PPBY untuk ke galaksi lain yang aku sendiri tak mengenalnya. Terlanjur salah mengambil kamus definisi mengajar. Menyesal melewatkan beberapa weekend tanpa mereka, aku terlalu egois mencari rupiah demi dunia yang sesaat. Memang kita perlu uang, tapi aku baru ingat “Sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki hamba yang shalih” (HR. Ahmad). Dulu aku terlalu fokus pada kelelahan yang kudapat dari mengajar bersama PPBY tanpa mengilhami kebahagiaan yang kudapat. Tapi itu dulu, masa lalu tak kan pergi ke mana-mana, kita lah yang akan beranjak pergi meninggalkannya.  Meminta keyakinan dari-Nya, lalu melangkah saja tanpa perlu banyak bicara. Aku kembali pada kalian, adik-adik PPBY! Segera bergerak menginspirasi kalian, tanpa ditunda-tunda. Aku ingin jadi bagian baik dalam perjalanan kalian meraih mimpi. Bersegera menanam kebaikan, menebar manfaat, dan aku berbahagia karena telah dimanfaatkan. Karena Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah).
            Telah kuputuskan hari minggu ini saat matahari mulai menunjukkan eksistensinya maka aku akan berangkat berjalan pagi seolah berdialog dengan alam. Tak peduli berapa pijakan yang akan kutempuh asal bisa bertemu kalian lagi di Kampung Blentuk.