Skenario
Allah memang selalu membuat kejutan. Aku terjebak, oh salah mungkin lebih
tepatnya kusebut tercemplung dan
berenang sekalian. Percayalah dulu aku merasa terdampar di planet bersama
alien-alien kecil saat masuk menjadi bagian keluarga PPBY. Tapi sekarang aku
bersyukur menjadi tawanan PPBY, tak mau mencoba keluar lagi dari penjara
teristimewa ini. Bahkan Gayus Tambunan harus tahu ada penjara yang lebih nyaman
dari penjara koruptor sekelasnya. Kini aku di depan ruang kelas dan siap untuk
mengajar. Ayo duduk dengan baik dan siapkan buku catatan Anda karena kelas akan
saya mulai sekarang.
Aku
hanya mahasiswi baru di Akademi Kimia Analisis yang masih meraba sistem kampus
dan segala komponen organisasinya. Awalnya niatku melanjutkan dan mengembangkan
hobi seni di kampus ini tapi namanya juga mahasiswa baru, mudah terpengaruh
kakak senior. Jauh dari orang tua membuatku hati-hati memilih teman, karena
salah berteman pasti membuat niatku berangkat ke kota hujan ini goyah.
Karena
pengaruh kakak senior akhirnya aku bergabung di salah satu organisasi kampus
bernama Pelaksana Program Beasiswa Yatim Dhuafa yang biasa disingkat PPBY.
Seperti kebanyakan maba lainnya, aku hanya ikut-ikutan. Aku diamanahkan sebagai
staff divisi Humas. Kegiatan utamanya adalah mengajar, setiap Minggu kami
mengajar di Kampung Blentuk. Mengajar sukarela? Tanpa dibayar? Membantu? Direpotkan? Setiap weekend? Oh
inikah yang mereka sebut militansi berorganisasi? Ya mungkin, pikirku.
Minggu pagi sebelum berangkat mengajar di
Kampung Blentuk aku sempatkan membaca materi pelajaran Sekolah Dasar. Aku belum
pernah mengajar sebelumnya, jadi kupastikan hafal dan paham materi yang akan
kuberikan pada anak-anak. You know what?
This is my first time! Jangan sampai aku ditertawakan anak-anak karena tak
bisa menjawab pertanyaan mereka. Untuk sampai di tempat mengajar kami di
Kampung Blentuk, kami harus berjalan kaki dari kampus melewati Jalan Tol lalu
menyusuri jalan berumput. Aku berjalan menetralisir karbondioksida yang segera
digantikan sisa-sisa oksigen yang ada di sela mobil mewah di jalan tol.
Beruntunglah aku masih mendapat kehebatan oksigen dari tanah Blentuk yang penuh
kehijauan walaupun beberapa kehijauannya telah terkhianati penikmat jalan tol
yang menghancurkan keagungan alam. Sebelum memulai belajar, kami selalu
membiasakan anak-anak berdoa terlebih dahulu lalu membagi mereka menjadi
beberapa kelompok. Tak jarang sedikitnya jumlah pengajar membuat kami kuwalahan
menghadapi anak-anak. Sering juga materi yang sudah kusiapkan terasa percuma
karena tak tersampaikan, waktu habis karena susahnya mengomando anak-anak agar
mendengarkanku. Saat aku mulai menjelaskan di papan tulis ada saja yang berlarian
layaknya di Dufan. Apalah dayaku bukan Harmonie teman Harry Potter yang bisa
menyihir mereka agar diam.
Rasa
lelah, kecewa, ketidak tahuan, semuanya bereaksi bercampur baur membentuk
senyawa yang pas untuk sebuah pilihan : BERHENTI. Setelah kupikir dengan
beberapa pertimbangan, rasanya hanya lelah yang kudapat selama mengajar. Toh
aku tidak dibayar, tidak mendapat hadiah, malah kukorbankan waktu yang seharusnya
bisa digunakan untuk mengerjakan tugas dosen atau laporan praktikum.
Aku mulai terbiasa mengajar dan
berfikir mencoba peruntungan baru. Di mading kampus kubaca lowongan kerja
sebagai tutor bimbel di Bogor. Ini kesempatanku mendapat tambahan uang,
daripada harus mengajar sebagai relawan. CV termenarik yang sengaja kubuat
mati-matian semalaman akhirnya terkirim ke alamat email di lowongan tersebut,
bahkan kukorbankan kuota internet untuk browsing contoh CV yang baik. Kuharapan
pembaca cerita ini tak mendoktrinku lebay, tolong maklumilah seorang mahasiswi
yang baru pertama melamar kerja part time. Beberapa hari kemudian, admin bimbel
tersebut menelepon dan mengabarkan bahwa aku harus mengikuti test sebelum resmi
menjadi tutor. Aku lalai, terlalu asyik mengejar uang dari mengajar hingga lupa
pada adik-adik PPBY-ku. Beberapa kali aku absen mengajar dengan pejuang PPBY.
Setelah dinyatakan lulus test, aku resmi menjadi tutor di bimbel tersebut.
Kusebut
dia Mawar (bukan nama sebenarnya), salah satu murid yang kuajar di bimbel
tersebut. Dia anak bungsu dari dua bersaudara. Kedua orang tuanya sengaja
mendaftarkan anaknya di bimbel padahal dia masih kelas 3 SD, sebenarnya belum
ada kelas untuk tingkatannya sehingga dia dimasukkan kelas privat. Saat itu
materi yang harus kusampaikan adalah matematika. Mawar anak yang pintar, di
luar dugaanku! Dia berhasil menjawab semua soal yang kuberikan hanya dengan
bantuan jari-jari mungilnya untuk menghitung.
“Anak
sudah pintar gini kok masih disuruh les sama orang tuanya”, gumamku.
Aku
kehabisan materi, kehabisan soal, semua bab kelas 3 SD telah dipahami Mawar.
Seketika kuingat adik-adik PPBY, Nisa, Nurma, Resti, Riska, Siti, dan lainnya
yang mungkin belum sepaham Mawar dan tak sejago Mawar untuk melumat soal
Matematika. Apa selama aku tak mengajar mereka mencariku?
Kucoba menikmati rutinitas baruku
sebagai tutor bimbel. Suatu hari aku mengajar di kelas 5, kali ini tak lagi
kelas privat. Satu kelas terdiri dari 5 atau 6 anak aku tak begitu ingat jumlah
tepatnya.
Saat
membahas soal tiba-tiba seorang anak menyeletuk, “Kak April, boleh minta pin
BB, twitter, facebook?”
Aku
terkejut, ”Tentu saja boleh, tapi nanti ya setelah belajar”, jawabku sambil kulirik
gadget yang digenggamnya. Kupastikan anak ini berasal dari keluarga strata
menengah ke atas, untuk porsi kelas 5 SD bagiku gadgetnya sangat mewah bahkan
melebihiku yang saat itu hanya bermodal teknologi blackberry 8560. Seketika itu
pula kuingat adik-adik PPBY di kampung Blentuk. Kuingat dulu pernah membawa laptop saat
mengajar mereka, betapa senangnya anak-anak di kampung kecil dekat Tol itu. Aku
merasakannya dari mata yang berbinar-binar, dari tawa dan penasaran mereka yang
bergejolak. Kumainkan salah satu lagu di laptopku berjudul Aku Anak Indonesia
yang dinyanyikan Tasya, mereka berebut ingin di dekatku untuk sekedar melihat
layar laptop dan ingin tau cara mengoperasikannya. Di saat anak-anak lain
menikmati gadget mahal pemberian orang tuanya, berkesempatan menjajal games
yang tiap hari bisa mereka download maka di belahan lain hanya dengan cara yang
tak mahal, sesederhana kutunjukkan laptop pada anak-anak kampung Blentuk maka
mereka sudah sangat bahagia. Mereka yang mengajarkanku kesederhanaan, karena
bahagia adalah bagaimana cara kita bersyukur. Apa selama aku tak mengajar
mereka menanyakan keberadaanku? Aku rindu kalian, adik-adik PPBY-ku.
Aku sadar. Aku telah terlalu jauh
terbang meninggalkan adik-adik PPBY untuk ke galaksi lain yang aku sendiri tak
mengenalnya. Terlanjur salah mengambil kamus definisi mengajar. Menyesal
melewatkan beberapa weekend tanpa
mereka, aku terlalu egois mencari rupiah demi dunia yang sesaat. Memang kita
perlu uang, tapi aku baru ingat “Sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki
hamba yang shalih” (HR.
Ahmad). Dulu aku terlalu fokus pada kelelahan yang kudapat dari mengajar
bersama PPBY tanpa mengilhami kebahagiaan yang kudapat. Tapi itu dulu, masa
lalu tak kan
pergi ke mana-mana, kita lah yang akan beranjak pergi meninggalkannya. Meminta
keyakinan dari-Nya, lalu melangkah saja tanpa perlu banyak bicara. Aku kembali
pada kalian, adik-adik PPBY! Segera bergerak menginspirasi kalian, tanpa
ditunda-tunda. Aku ingin jadi bagian baik dalam perjalanan kalian meraih mimpi.
Bersegera menanam kebaikan, menebar manfaat, dan aku berbahagia karena telah
dimanfaatkan. Karena Sebaik-baik manusia adalah yang paling
bermanfaat bagi orang lain. (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni.
Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah
As-Shahihah).
Telah kuputuskan hari minggu ini
saat matahari mulai menunjukkan eksistensinya maka aku akan berangkat berjalan
pagi seolah berdialog dengan alam. Tak peduli berapa pijakan yang akan kutempuh
asal bisa bertemu kalian lagi di Kampung Blentuk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar